Ketek Banamo Andi Chandra Gadang Bagala Sutan Mudo

Dalam adat Minangkabau ada istilah “ketek banamo gadang bagala”, bagi anak laki-laki. Maksudnya adalah ketika kecil seorang anak laki-laki diberi nama, dan nama itulah yang dipanggil kan oleh keluarga serta teman-temannya. Namun, begitu si anak lelaki menginjak masa dewasa yakni ketika melangsungkan pernikahan, akan mendapatkan gala adat. 

Sebagai contoh, katakanlah ada seorang lelaki dari daerah Painan yang bernama Andi Chandra. Saat menikah dengan seorang gadis asal Padang, setelah akad nikah dilangsungkan, diberi gala Sutan Mudo oleh mamaknya (saudara laki-laki dari ibu mempelai pria).

Agar diketahui publik, gala tersebut diumumkan di depan semua orang yang hadir saat acara pernikahan. Nah, sejak saat itu, siapapun juga akan memanggil Andi Chandra menjadi sebagai Sutan Mudo.

Larangan bagi lelaki yang telah menikah bila orang lain memanggil nama kecilnya. Orang tuanya pun dan juga mertuanya akan memanggil gala ke anak atau menantu laki-laki nya.

Alasan lainya, laki-laki di Minangkabau harus dipanggil galanya adalah untuk memberikan penghormatan, dan juga saling menghargai dengan yang lainnya. Di samping sebagai sebuah penghormatan akan kedewasaannya, juga tersirat agar si pemegang gala senantiasa memelihara perangainya, jangan lagi bertindak seperti anak-anak atau remaja. 

Setelah dipanggil nama galanya, seorang laki-laki diharapkan selalu ingat dengan tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang sekaligus sebagai kepala keluarga. Justru kalau ada temannya yang masih memanggil nama kecilnya, bisa dianggap sebagai pelecehan.

Biasanya, lelaki yang baru dapat gala sudah lupa dengan galanya sendiri. Sehingga ketika mertuanya yang ingin menghargai menantu dengan memanggil gala, tidak dijawab oleh menantu, karena ia tidak menyadari kalau telah punya gala. Pengantin baru saja bisa lupa dengan galanya, Apalagi lelaki Minang yang sudah belasan tahun menikah, banyak yang lupa saat ditanya siapa nama galanya.

Sebaiknya menurut penulis, pemakaian gala bagi lelaki Minang yang sudah menikah, tidak sekadar pelengkap di acara akad nikah atau acara adat, tapi betul-betul dipakai. Artinya, lelaki memasang namanya secara lengkap termasuk galanya dalam berbagai kesempatan, serta orang lain wajib memanggil gala tersebut dalam berinteraksi dengan lelaki Minang yang sudah memiliki gala.